Laporan Buku : Pesantren Ilalang

Laporan Buku

Identitas Buku
Judul /Jenis Buku      : Pesantren Ilalang /Fiksi
Pengarang                  : Amar De Gapi
Penerbit/Thn             : DIVA Press/2009
Jumlah Halaman         : 310 halaman
Ukuran Buku              : 20 cm x 14cm

Sinopsis
Dikisahkan seorang pemuda bernama Kemal, dia menjalani kehidupan sebagai seorang guru. Profesi yang jauh dari harapan, dan tak pernah singgah dalam impiannya. Latar belakang pendidikannya yang Fakultas MIPA Matematika bertolak belakang dengan apa yang sekarang ia jalani. Dulu, ia sempat berkeinginan mengambil Fakultas Kedokteran, nilai-nilainya terbilang bagus, undangan masuk Universitas tanpa tes kian menambah semangatnya. Ia seperti telah menggenggam masa depan. Namun, ia tak berhasil melumatkan kebingungannya dalam memanfaatkan peluang masuk kuliah. Akhirnya pilihannya jatuh pada kuliah di jurusan Matematika. Embel-embel keja di perusahaan besar dengan pakaian necis berdasi sesaat menambah semangat kuliahnya. Tetapi, kebingungan kembali hadir saat akan menyelesaikan skripsi. Ia bingung akan menjadi apa nantinya juga bingung dengan apa yang akan dikerjakannya setelah lulus nanti.

Tawaran mengajar di Pesantren as-Salam ia terima. Meski serba kebetulan dan tak diharapkan, ia mencoba menjalani itu semua dengan keyakinan akan rencana Tuhan. Ia menjalani kehidupan dengan mendidik para santri di Pesantren as-Salam, sebuah pesantren di daerah terpencil yang serba terbatas.  Ditemani 4 orang guru yang setiap tahunnya harus berganti karena tuntutan gaji memaksa mereka pindah. Ya, gaji yang ia dan teman-temannya terima hanya 300ribu/bulan. Itupun hanya mengandalkan iuran dari para santri yang seringkali telat membayar bahkan sampai menunggak hingga berbulan-bulan. Tak hanya itu, setiap harinya Kemal harus rela memakan sambal teri dan daun singkong rebus dikarenakan uang dapur yang tak mencukupi. Namun, ia mencoba tabah dalam menjalani semua itu. Mengajar lebih dari 5 mata pelajaran, juga menjadi tempat curhat bagi anak didiknya, menyelesaikan seluruh masalah yang dihadapi oleh mereka, dan sekaligus menjadi tempat berutang jika sesekali ada santrinya yang kehabisan uang. Ia terkadang dihadapkan dengan masalah yang bertubi-tubi, dan dengan kesabarannya ia mencoba menyelesaikan semua itu. Sempat terpikir olehnya untuk meninggalkan “Rumah Hijau” beserta para santri yang telah mengajarkannya arti kehidupan. Tetapi, rasa nyaman dan keinginannya untuk terus mengabdi menghapuskan semua pikiran itu. Hingga akhirnya, takdir semakin menyempurnakan pengabdiannya tatkala ia didapuk menjadi kepala dua sekolah sekaligus (MTs dan MA)! .

Tanggapan
Pesantren Ilalang, adalah sebuah novel kehidupan pengabdian seorang guru yang dituturkan dengan runtut dan menyentuh. Mengokohkan penulisnya dalam menyuguhkan jalan cerita yang menarik disertai berbagai konflik dengan penyelesaian yang unik. Menurut saya, Pesantren Ilalang merupakan sebuah novel penggembleng kepribadian. Dimana, kita diajarkan menjadi seorang pemberani. Seorang yang berani menerima tantangan sesulit apapun itu. Seperti seorang Kemal yang rela menanggalkan segala impiannya yang sudah di depan mata demi mengabdi menjadi seorang guru di daerah terpencil dengan gaji yang tidak seberapa. Baginya, ini bukan soal gaji, tetapi sebuah pengabdian. Karena ia yakin akan rencana besar yang sudah Tuhan siapkan. Istilahnya seperti “Keluar dari Zona Nyaman”. Memang, kita seakan terlena dengan apa yang telah kita capai sehingga cenderung bertahan pada zona nyaman kita. Namun, sebenarnya ada hal lain yang belum kita perjuangkan yang mungkin akan lebih baik dari semua yang telah kita capai. Oleh karena itu, pesan dari novel ini,  jangan ragu untuk keluar dari zona nyaman kita, dan gapailah impian yang belum tercapai. Selain itu, bentuk pengabdian  sebagai seorang guru sejati secara gamblang dipaparkan dalam novel ini. Menurut saya, Pengabdian adalah suatu bentuk tanggung jawab yang harus kita terima segala konsekuensinya. Sehingga,  Sebanyak apapun godaan, jika memang niat kita adalah mengabdi, maka sekalipun tak akan terbesit pikiran untuk mengingkari apa yang menjadi sumber pengabdian kita.  


0 komentar:

Posting Komentar